Halaman

Selasa, 28 Januari 2014

Trilogy "Best December Ever" #Book 2

Haha, udah akhir januari,, buku kedua. Sebenarnya aku berpikir untuk membuat ini jadi Dwilogy saja, tapi, yah, ah, lupakan. Baca saja :D

Hahahaha.

24 desember pukul 10 malam. Aku masih ga bisa tidur soalnya kepikiran tanggal 25. Pokoknya pikiran tentang maen,, makan-makan, maen, jalan-jalan, ke gereja, maen, dan lain-lain udah memenuhi pikiran. Natal men, natal. Ultah Yesus yang ke 2013. Tua juga sih ya, hehe. Nah, singkat cerita gue terbangun pukul 2 pagi. Lalu, gue telponin orang-orang.

“Mbak Ninaaa!!!! Selamat natal yaaaa!!!!!!” obrolan beranjut.

“Adit!! Bangun, ini natal bro!!!!” obrolan berlanjut

“Galuhhhh!!!! Luh? Woy?” hmm,, yaahh dia menjawab kok.

“Citraaaaa!!! Banguuunnnnn!!!!” dia sangat kacau.

“Rosssaaaa!!!! Hai :D” kami seperti sahabat yg lama tak berjumpa.

“Ratiihh!!!!!” aku lupa apa yg kami bicarakan.

Yahh,, dan beberapa orang lainnya, kurasa. Yang jelas aku tidak terlalu mendapat respon positif. Tapi, luweh. Ini natal :D

Singkat cerita Aku, Galuh, Adit, dan Citra berkumpul di rumahnya Citra untuk ke Pancasila jam 3. Ya mulainya jam 4 sih,, tp kan biar greget gituuu. Sebenarnya Mario dan Nanda mau gabung, tapi, entah kenapa nggak ngangkat telpon dari kami. Ya sudah.

Berangkatlah kami. Wow. Kami duduk di paling depan, tikarnya paling lebar. Ketawanya paling keras. Kami sangat menikmatinya. Nyanyi heboh sendiri, pakai korek api sebagai pengganti lilin, tidur bareng waktu khotbah, dan nulis surat buat diikat ke balon yg bakal diterbangkan. Hehehe. Seru lho. Sampai saat itu tiba. Ya, saat itu. Moment laknat. Sial.

“Cit, ndak karpetmu basah?” Tanyaku.

“Iya, kak, celanaku jadi basah” damn.

Kami berempat mengalami semacam karma,mungkin. Fajar baru saja menyingsing. Ini baru dimulai. It’s just a beginning!

Rupanya embun di lapangan pancasila yg menjadi biang masalahnya. sekuat tenaga kami mencoba mengatasinya. Kau tahu? Nasi sudah menjadi bubur. Di mana-mana bubur itu encer. Demikian pula karpet kami.

Kami berempat sakit perut dan yg paling parah adalah aku. Aku baru menyadarinya pas lagi maen music buat sekolah minggu. dan, you know, natalan di kasur. Diare bro. damn it.
Bener-bener gak enak. Isinya cuma tidur dan khawatir pas kentut. Saudara-saudara pada dating ke rumahku buat natalan, tapi aku cuma lemes di kasur. Tiga temen basioku yg lain udah sembuh sih, sedangkan aku masih bergumul dgn diare ini sampe tanggal 27. Ahhhhhh.
Dan, kau tahu? Hidupku lebih suram lagi. Yup, soeram. Selepas sembuh dari diare aku menderita “gagal eek” sampe tanggal 3 Januari!!!!

Oke, gue mulai emosi mengingat ini semua. Lanjut di buku terakhir aja.

Wkwkwkwkw
Salam eek.


Quote: jika kau mulai kebelet eek, renungkan itu. Mungkin itu tak seperti yg kau bayangkan, atau tidak seperti yg seharusnya terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar